A. Nutrigenomic
Pertama, zat-zat kimia pada makanan berpengaruh pada gen-gen
manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bisa mengganggu ekspresi
gen.
Kedua, dalam kondisi tertentu atau pada individu tertentu,
zat-zat bioaktif makanan dapat menjadi pemicu yang menyebabkan sakit.
Ketiga, sejauh mana zat makanan berpengaruh menyehatkan atau
menyebabkan sakit bagi individu tergantung pada kondisi genetik masing-masing.
Keempat, konsumsi makanan tertentu yang didasarkan pada
pengetahuan kebutuhan gizi, status gizi, dan genotipe individu bisa diarahkan
untuk mencegah, mengendalikan, atau bahkan menyembuhkan penyakit kronis.
B. PPARs (Peroxisome
Proliferators Activated Receptors)
1. Definisi PPARs
Di bidang biologi molekular, Peroxisome Proliferators
Activated Receptors (PPARs) merupakan kelompok nuklear receptor protein yang
berfungsi sebagai faktor transcription mengatur ekspresi gen. Dalam ilmu sel,
PPARs merupakan golongan sel penerima. PPARs pertama kali ditemukan pada katak
jenis Xenopus, sebagai sel peka rangsangan yang mempengaruhi perkembangbiakan
(perkembangan) perixom (PP= peroxisome proliferators) dalam sel. Dengan
aktivasi jalur cell signal transduction, maka PPARs akan diaktifkan dan
merupakan mekanisme yang berkaitan dengan munculnya PP.
PPARs memilhki fungsi dalam metabolisme lemak, glukosa
homeostasis, anti inflamasi, imunoregulasi, dan diferensiasi sel. Peroxisome
proliferator-Active receptors (PPARs) merupakan receptors nuklear (NRs) yang
mengontrol banyak sel dan proses metabolik.
2. Tatanama PPARs
Tiga jenis PPARs telah diidentifikasi alpha, gamma, dan
delta (beta):
a. α (alfa) – dalam hati, ginjal, hati, otot, dan adipose
tissue.
b. β / δ (beta / delta) – dalam sel-sel otak, jaringan
adipose, dan kulit.
c.1. γ 1 – dalam hampir semua jaringan, termasuk jantung,
otot, usus besar, ginjal, pankreas, dan limpa.
c.2. γ 2 – terutama
dalam jaringan adipose.
c.3. γ 3 – dalam
macrophages, usus besar, adipose tissue.
Semua PPARs memiliki struktur sesuai dengan fungsinya
masing-masing. Hal yang paling utama adalah DBD (DNA Binding Domain) dan LBD
(Ligand Binding Domain). DBD mengandung 2 macam pola rantai yang mengandung zat
seng (Zinc) xang dapat menjaga pengaturan rantai DNA ketika sel penerima sudah
dalam keadaan aktif. LBD memiliki struktur sekunder alpha helices dan beta
sheet yang sangat luas. Perpaduan antara zat ligan alami dan sintetis berfungsi
menjaga LBD dalam mengaktifkan sel penerima.
3. Mekanisme PPARs
PPARs memiliki peran penting dalam formasi lemak. Regulasi
aktivitas PPARs bergantung pada banyak faktor mulai dari ligan dietary sampai
ko-aktivator hormon nuklear.
Aktivasi PPARs adalah melalui ikatan dengan ligan sehingga
membentuk suatu kompleks dengan protein yaitu retinoid X receptor (RXR),
kemudian mengikat peroxisome proliferative response element (PPRE) dan
selanjutnya melakukan perannya dalam regulasi transkripsi gen, metabolisme asam
lemak, glukosa dan insulin homeostasis, dan fungsi macrophage.
Bagian yang penting dalam memahami hubungan
peradangan-metabolisme-berat badan adalah sekelompok reseptor yang banyak
terdapat pada permukaan nukleus sel-sel lemak dan sel-sel organ hati, yang
disebut PPARs (alpha, beta, gamma). PPARs berkomunikasi dengan DNA untuk
melajukan atau memperlambat metabolisme. PPARs juga mengendalikan peradangan.
Sejumlah makanan tertentu (terutama lemak-lemak tertentu) mengaktifkan reseptor
PPARs dan sejumlah makanan lain memadamkannya. Salah satu molekul peradangan yang
diproduksi sel-sel lemak adalah pada saat mengkonsumsi terlalu banyak gula,
lemak jenuh atau terlalu banyak kalori disebut tumor necrosis factor alpha
(TNF-alpha). Molekul ini mengikat dan membendung PPARs di dalam sel. Molekul
peradangan ini memperlambat metabolisme, menjadikan tubuh tahan terhadap
efek-efek insulin, dan mengakibatkan penambahan berat badan.
Obesitas selalu menjadi masalah dalam kelebihan simpanan
lemak di jaringan adipose, termasuk liver dan otot skeletal. Hal ini mungkin
dapat menjadi petunjuk resistensi insulin dan menstimulasi inflamasi, seperti
pada steatohepatitis. Obesitas akan merubah morfologi dan komposisi jaringan
adipose, dan selanjutnya mempengaruhi produksi dan sekresi protein. Beberapa
sekresi protein termasuk mediator proinflamasi diproduksi oleh macrophage yang
residen di dalam jaringan adipose. Banyak mekanisme molekular dengan implikasi
obesitas dan inflamasi dimodulasi oleh PPARs. PPARs merupakan ligan-faktor
transkripsi diaktifkan yang terlibat dalam regulasi proses biologik, termasuk
metabolisme lemak dan glukosa serta semua energi homeostasis. PPARs juga
mengatur respon inflammatory, dengan mengurangi inflamasi.
Dalam ekspresi gen, PPARs dengan retinoic X receptors (RXR)
akan merubah transkripsi target gen setelah berikatan dengan PPREs. Pada
aktivasi oleh asam lemak dan obat-obatan, kontrol PPARs terhadap ekspresi gen.
PPAR dengan retinoic x receptor (RXR) dan mengubah transkripsi dari gen target
setelah berikatan dengan system respon atau PPREs, terdiri dari pengulangan
dari nuclear receptor hexameric DNA recognition motif (PuGGTCA) oleh 1
nucleotide (DR-1). Ketika diaktivasi oleh asam lemak dan obat-obatan yang
memberikan efek pada metabolism lemak, PPARs akan mengontrol ekspresi gen dalam
implikasinya di intra dan extracellu
Pengaktifan yang dilakukan oleh asam lemak dan obat yang
mempengaruhi metabolism lemak, PPARS mengendalikan gen exspress mengimplikasi
intracelluler dan extracellular metabolism lemak, yang melibatkan peroxisomal
beta-oxidation. Sebagian PPARS memberikan effek dalam menginduksi serat dan
asam lemak pada HDL dengan meregulasi transkripsi dari apolipoproteins HDL,
apoA-I dan apoA-II.
Hypotriglycerida serat dan asam lemak juga mempengaruhi
PPARs dalam :
Oleh karena itu keduanya meningkatkan katabolisme partikel
yang kaya TG dan menurunkan sekresi VLDL yang mengakibatkan hypolipidemia
karena serat dan asam lemak. Sehingga PPARs muncul untuk mempengaruhi proses
differensiasi karena aktifasi dar PPARs γ yang memicu differensiasi adiposity
dan menstimulasi ekspresi gen pada adipogenesis. Hal ini berarti PPARs
merupakan kunci translasi zat gizi dan menstimulasi farmakologi dalam perubahan
ekspression gen yang melalui jalur differensiasi.
2.3 Sumber Bahan Makanan PPARs
Lemak Omega 3 (EPA dan DHA) yang terdapat pada minyak ikan.
OEA (Oleoylethanolamide) yang biasa terdapat pada mentega kakao, cokelat hitam,
dan biji cokelat. Biji kakao yang murni, non olahan, dan dipanggang kaya akan
polyphenol dan OES, lemak khusus yang akan membantu dalam membakar lemak (Mark
Hyman, M.D. Ultra Metabolisme).
Ikan tuna baik untuk mencegah kanker payudara. Hal tersebut
disebabkan kandungan omega-3 pada tuna dapat menghambat enzim proinflammatory
yang disebut cyclooxygenase 2 (COX 2), enzim pendukung terjadinya kanker
payudara.
Omega-3 dapat mengaktifkan reseptor di membran sel yang
disebut peroxisome proliferator-activated receptors (PPARs), yang bisa
menangkap aktivitas sel penyebab kanker. Selain itu, omega-3 juga dapat
memperbaiki DNA.
Chlorella sorokiniana yang dikembangbiakkan
oleh Dr, Shun-Te Wang, diambil dari alga bersel tunggal dan berkembang di
kolam air tawar yang bebas polusi dan menyerap O2 dan energi matahari. Setiap
24 jam sel tunggal tersebut mempunyai faktor pertumbuhan membelah diri menjadi
4 (empat) sel (Cell Growing Factor disingkat CGF).
Chlorella Sorokiniana merupakan agonist PPARs yang mengandung
element-element berupa protein, phycocianin, chlorophyll, RNA, DNA,
multivitamin dan mineral, dan molekul PPARs.
Menurut para peneliti, element-element dan molekul PPARs
yang terkandung dalam Cryptomonadales dapat berperan sebagai antivirus,
antioksidan, antikanker, peremajaan sel, fungsi detox, anti radang menghambat
infeksi entovirus, virus influenza, virus herpes papio, mengendalikan
metabolisme lemak, homeostatis-glucosa, anti inflamasi, immunoregulator dan
diferensiasi sel kanker.
DAFTAR PUSTAKA

